Biji batang bawah tanaman jeruk dapat mempunyai lebih dari satu embrio, sehingga setelah berkecambah akan tumbuh beberapa semaian, yang dikenal dengan sebutan poliembrional, dan apabila dalam satu biji hanya tumbuh satu embrio disebut monoembrional. Tidak semua spesies jeruk menghasilkan bibit zigotik poliembrionik. Ada beberapa spesies jeruk yang menghasilkan bibit zigotik monoembrionik, yaitu Citrus maxima dan Citrus medica. Biji batang bawah jeruk yang bersifat poliembrioni, bila dikecambahkan dapat menghasilkan dua macam semaian, yaitu semaian generatif yang berasal dari pertemuan sel jantan dan betina atau disebut zygot dan semaian vegetatif atau disebut semaian nuselar. Semaian nuselar berasal dari embrio yang terbentuk dari sebuah atau sekelompok sel pada nuselus maupun integumen. Jadi jumlah semaian generatif hanya ada satu, sedangkan semaian nuselar dapat lebih dari satu (Setiono & Supriyanto 2005). Heddy (1986) menyatakan bahwa jaringan nuselus merupakan jaringan meristematik yang kaya akan auksin.

Praktikum kali ini dilakukan untuk mengamati poliembrioni yang terjadi pada biji jeruk peras. Menurut (plantamor.com), jeruk peras memiliki klasifikasi sebagai berikut :

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Sapindales
Famili: Rutaceae (suku jeruk-jerukan)
Genus: Citrus
Spesies: Citrus madurensis Lour.

Praktikum dilakukan dengan menggunakan sepuluh polibag sebagai ulangan. Masing-masing polibag ditanam sebanyak tiga biji dengan kedalaman 5 cm. Hasil uji poliembrioni pada biji jeruk peras (Citrus madurensis Lour.) menunjukkan hanya ada dua dari sepuluh polibag yang mengalami pertumbuhan dengan baik, yaitu polibag ke-8 dan ke-9. Pada polibag ke-8, ketiga biji yang ditanam mengalami pertumbuhan. Biji jeruk peras yang pertama menunjukkan adanya poliembrioni pada biji jeruk dengan tiga embrio. Embrio kedua dari biji pertama mengalami pertumbuhan tinggi tanaman tercepat pada tiap minggu pengamatan. Biji kedua dan ketiga dari polibag ke-8 tidak menunjukkan adanya poliembrioni pada biji. Biji kedua bertahan hingga akhir pengamatan, sedangkan biji ketiga mati pada minggu keempat karena tajuk tanaman tersebut patah. Poliembrioni pada biji juga terjadi pada polibag ke-9 dari biji pertama dengan dua embrio. Embrio pertama mengalami pertumbuhan tinggi tanaman lebih cepat daripada embrio yang kedua. Pada minggu keenam, embrio kedua mati karena patahnya tajuk tanaman jeruk peras.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan poliembrioni pada biji, diantaranya biji yang digunakan berasal dari buah yang matang secara fisiologis, memiliki kebutuhan air yang tercukupi, dan kondisi biji saat ditanam bersih dan kering sehingga tidak terkontaminasi cendawan. Polibag lain yang diamati tidak menunjukkan adanya pertumbuhan embrio jeruk. Beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan ini antara lain biji yang ditanam berasal dari buah dengan tingkat kematangan fisiologis yang berbeda, biji terserang cendawan saat awal penanaman, dormansi biji, jarak tanam yang terlalu dekat, dan penempatan biji saat penanaman terlalu dalam. Menurut  Setiono dan Supriyanto (2005), jumlah embrio nusellar dalam satu biji jeruk sebenarnya dapat mencapai 12 embrio tetapi yang mampu tumbuh biasanya jarang melebihi empat semaian. Sifat poliembrional merupakan salah satu sifat penting bagi suatu varietas batang bawah selain sifat kompatibel dengan batang atasnya, pengaruh positifnya terhadap ketegaran pohon, hasil dan mutu buah, dan kemampuannya dalam mengeksploitasi kondisi lahan yang tidak menguntungkan serta ketahanannya terhadap penyakit tertentu. Kenyataan di lapang membuktikan bahwa tidak ada satu jenis batang bawah yang memiliki sifat sempurna, dan biasanya memiliki kelebihan dan kekurangan (Setiono & Supriyanto 2005).

SIMPULAN

Poliembrioni yang terjadi pada biji jeruk peras (Citrus madurensis Lour.) ditunjukkan pada polibag ke-8 dan ke-9. Pada polibag ke-8, ketiga biji menumbuhkan tanaman dengan baik. Biji pertama dari polibag ke-8 menghasilkan tiga embrio. Pada polibag ke-9 hanya satu biji yang menumbuhkan tanaman dengan baik dan menunjukkan adanya poliembrioni jeruk dengan dua embrio. Kegagalan pertumbuhan embrio pada delapan polibag lainnya disebabkan oleh faktor lingkungan dan faktor internal dari biji yang ditanam, misalnya dormansi biji dan kurangnya viabilitas biji.

DAFTAR PUSTAKA

Heddy S. 1986. Hormon Tumbuh. Jakarta : Grafindo Persada.
Setiono & Supriyanto. 2005. Poliembrional dan Seleksi Semaian Vegetatif pada Pemibitan Jeruk. Citrusindo 03.
Soenaryono, Hendro. 1989. Pengenalan Jenis Tanaman Buah – buahan Bercocok Tanam Buah – buahan Penting di Indonesia. Bandung: Sinar Baru.
Tjitrosoepomo G. 1985. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.

Lampiran Hasil Pengamatan

Pewarnaan Gram dan Pewarnaan Negatif

Posted by: ALFRED MICHAEL ALFRED MICHAEL in Department of Biology No Comments »

Prosedur pewarnaan gram pertama kali ditemukan pada tahun 1884 oleh Hans Christian, seorang bakteriologiwan asal Denmark. Proses pewarnaan gram dilakukan dengan menggunakan seperangkat pewarna gram yang terdiri dari ungu kristal, larutan iodium gram, alkohol 95%, dan pewarna safranin. Pewarnaan gram merupakan pewarnaan penting dan paling banyak digunakan dalam klasifikasi bakteri. Melalui metode ini, bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu gram positif dan gram negatif. Pengelompokkan bakteri menjadi gram positif dan gram negatif dilihat dari warna yang muncul akibat reaksi bakteri tersebut terhadap zat pewarna yang digunakan. misalnya warna ungu yang menunjukkan bakteri gram positif, dan warna merah yang menunjukkan bakteri gram negatif (Sunatmo TI 2009).

Warna yang muncul akibat reaksi bakteri dengan seperangkat zat warna yang digunakan dalam pewarnaan gram ditentukan oleh komposisi dinding sel dari bakteri tersebut. Bakteri gram positif dapat mempertahankan kompleksitas warna yang dihasilkan dari ungu kristal hingga prosedur terakhir pewarnaan gram, sedangkan bakteri gram negatif tidak dapat mempertahankan kompleksitas warna yang dihasilkan dari ungu kristal hingga prosedur terakhir pewarnaan gram. Kompleks warna yang dihasilkan dari ungu kristal pada bakteri gram negatif hilang saat pembilasan dengan menggunakan alkohol, dan kembali terwarnai setelah diberikan pewarna safranin. Kemampuan bakteri dalam mempertahankan warna ungu dari ungu kristal dipengaruhi proses dekolorisasi oleh alkohol. Bakteri gram positif umumnya tidak mengalami dekolorisasi karena bakteri ini tetap mengikat warna ungu dari ungu kristal hingga proses akhir pewarnaan gram. Berbeda dengan bakteri gram positif, bakteri gram negatif mengalami proses dekolorisasi oleh alkohol Bakteri gram positif sangat sensitif dengan penisilin, sedangkan bakteri gram negatif lebih sensitif terhadap streptomisin (Winarno FG 1988).

Struktur bakteri dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu struktur dasar dan struktur tambahan. Struktur dasar umumnya dimiliki oleh hampir semua jenis bakteri, sedangkan struktur tambahan hanya dimiliki oleh beberapa jenis bakteri tertentu. Struktur dasar bakteri meliputi dinding sel, membran plasma, sitoplasma, ribosom, DNA, dan kapsul, sedangkan struktur tambahan bakteri meliputi flagelum, pili, fimbria, klorosom, vakuola gas, dan endospora (Sunatmo TI 2009).

Perbedaan hasil pewarnaan gram antara bakteri gram positif dan bakteri gram negatif diketahui karena terdapat perbedaan komposisi antara dinding sel kedua bakteri tersebut. Bakteri gram positif memiliki dinding sel yang terdiri atas lapisan peptidoglikan yang tebal dan asam teichoic. Dinding sel peptidoglikan yang tebal setelah pewarnaan dengan ungu kristal, menyebabkan pori-pori dinding sel menyempit akibat dekolorisasi oleh alkohol sehingga dinding sel tetap menahan warna biru. Sedangkan bakteri gram negatif memiliki lapisan luar berupa lipopolisakarida yang terdiri atas membran dan lapisan peptidoglikan yang tipis dan terletak pada periplasma (di antara lapisan luar dan membran sitoplasmik). Lapisan terluar lipopolisakarida kemungkinan tercuci oleh alkohol, sehingga pada saat diwarnai dengan safranin akan berwarna merah. Dari penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa mekanisme pewarnaan gram hanya dapat digunakan pada mikroorganisme yang mempunyai dinding sel. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa pewarnaan gram tidak bisa dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel, misalnya Mycoplasma sp. (Sunatmo TI 2009). Contoh bakteri gram positif ialah Staphylococcus aureus, sedangkan contoh bakteri gram negatif yaitu Escherichia coli (Winarno FG 1988).

Pewarnaan negatif biasa dilakukan untuk membedakan spesimen kecil dengan cairan optiknya. Prinsip dasar dari perwarnaan bakteri ialah adanya ikatan ion antara komponen seluler dari bakteri dengan senyawa aktif dari zat pewarna yang disebut kromogen. Terjadinya ikatan ion disebabkan karena adanya muatan listrik baik pada komponen seluler maupun pada zat pewarna. Pewarnaan negatif atau pewarna asam dapat terjadi karena senyawa pewarna yang digunakan bermuatan negatif. Dalam kondisi pH mendekati netral, dinding sel bakteri cenderung bermuatan negatif, sehingga pewarna asam dengan muatan negatif akan ditolak oleh dinding sel, sehingga sel bakteri menjadi tidak berwarna. Contoh pewarna yang biasa digunakan diantaranya tinta cina, larutan nigrosin, asam pikrat dan eosin. Pewarna tersebut menjadikan bakteri menjadi tampak sebagai benda-benda terang dengan latar belakang gelap (Hapsoro PD 2010).

Teknik pewarnaan negatif dapat digunakan untuk menvisualisasikan protein, lipoprotein, kompleks nukleoprotein, dan isolasi organela seperti mitokondria. Dengan cara yang cepat, teknik ini dapat digunakan untuk memeriksa kualitas fraksi selama isolasi dari bagian sel tertentu seperti halnya sel yang utuh, misalnya sel bakteri. Larutan pewarna yang khas digunakan daam pewarnaan negatif yaitu uranil asetat, asam fosfotungstat, dan uranil format. Metode pewarnaan negatif mempunyai kelemahan, yaitu meningkatnya konsentrasi garam yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan struktur dan spesimen saat proses pengeringan (Hariono B 2009).

Daftar Pustaka
Hapsoro PD. 2010. Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Etil Asetat Buah Ceremai (Phyllantus acidus (L.) Skeels) Terhadap Staphylococcus aureus Dan Eschericia coli Multiresisten Antibiotik [skripsi]. Surakarta: Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Hariono B. 2009. Mikroskopi Elektron. Yogyakarta : Kanisius.
Sunatmo TI. 2009. Mikrobiologi Esensial 1. Jakarta : Ardy Agency.
Suwanda ZA. 2008. Pedoman Diagnosis Optik Golongan Bakteri. Jakarta : Departemen Pertanian RI.
Winarno FG. 1988. Mikrobiologi Pangan. Bogor : PAU Pangan dan Gizi IPB.

Just because…

Posted by: ALFRED MICHAEL ALFRED MICHAEL in PenKom (KOM 201) No Comments »

Just because I have never done drugs, doesn’t mean I’m not cool.

Just because I’m not a fighter, doesn’t mean I’m weak.

Just because I am not a party boy, doesn’t mean I can’t hang.

Just because I get good grades, doesn’t mean I’m a nerd.

Just because teachers like me, doesn’t mean I am teachers pet.

Just because I am not a rebel, doesn’t mean I’m scared.

Just because I am quiet, doesn’t mean I don’t speak up for what I believe in.

Just because I have morals, doesn’t make me a good two shoes.

Just because I walk away from trouble, doesn’t make me a pushover.

Just because I think before I act, doesn’t make me a loser.

Ilmuwan: “Cinta itu Ilmiah”

Posted by: ALFRED MICHAEL ALFRED MICHAEL in it's complicated No Comments »

Peneliti dari Syracuse University, Profesor Stephanie Ortigue, menemukan ada 12 area pada otak yang bekerja pada saat seseorang jatuh cinta. Kedua belas area itu menghasilkan bahan kimia, seperti dopamine, oxytocin, adrenalin, dan vasopression, yang berujung pada euforia. Rasa cinta juga memengaruhi fungsi psikologi, metafora, dan penilaian fisik.

Jadi, cinta itu berasal dari hati atau otak? “Pertanyaan yang selalu sulit dijawab. Saya berpendapat asalnya dari otak,” kata Ortigue. “Contohnya, suatu proses di otak kita bisa menstimulasi hati. Beberapa perasaan dalam hati kita sebetulnya merupakan gejala atas proses yang terjadi di otak.”

Penelitian lain mendapati peningkatan jumlah darah dalam faktor penumbuh untuk syaraf yang memegang peranan penting dalam cara orang bersosialisasi. Hal ini menghadirkan fenomena yang disebut dengan “cinta pada pandangan pertama”. Hal ini dikonfirmasi oleh temuan Ortigue yang menyebutkan kalau cinta bisa hadir dalam waktu seperlima detik.

Ortigue menjelaskan dengan memahami cara orang jatuh cinta dan putus cinta, para peneliti bisa mengembangkan terapi baru. “Kita bisa mengerti penyakit putus cinta,” kata Ortigue.

Studi Ortigue juga mendapati ada bagian otak yang berbeda untuk tipe cinta yang berbeda. Cinta tanpa syarat, contohnya cinta seorang ibu pada anaknya, dipicu oleh aktivitas otak di bagian umum dan pada tempat yang berbeda-beda, termasuk otak tengah. Cinta yang bergairah antara kekasih melibatkan area kognitif, bagian yang mengharapkan imbalan, dan penilaian fisik.

 

Konservasi Ex-situ Kebun Raya Cibodas

Posted by: ALFRED MICHAEL ALFRED MICHAEL in Department of Biology No Comments »

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terlengkap di dunia. Keanekaragaman hayati terdiri atas hewan, tumbuhan, mikroorganisme, gen, dan ekosistem. Adanya permasalahan ekosistem seperti pembukaan lahan hutan menyebabkan berkurangnya sejumlah spesies tertentu. Belum tersedianya bank plasma nutfah untuk melestarikan keanekaragaman tersebut merupakan masalah konservasi yang belum terselesaikan hingga saat ini. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya spesies yang mati dan masuk dalam status langka.

Strategi pelestarian keanekaragaman hayati dapat dilakukan baik di habitat alami (konservasi in-situ) maupun di habitat buatan yang mendukung kehidupan seperti di habitat alami (konservasi ex-situ). Konservasi in-situ seperti taman nasional, cagar alam, dan suaka margasatwa dikelola oleh Departemen Kehutanan, sedangkan konservasi ex-situ seperti arboretum, kebun raya, dan kebun binatang dikelola oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Upaya konservasi mengikuti ketentuan UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Salah satu jenis konservasi ex-situ yang dikelola oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah kebun raya. Kebun Raya adalah suatu kawasan yang mengoleksi berbagai jenis tumbuhan dengan dasar dan informasi ilmiah mengenai koleksi tumbuhan yang terdokumentasi dengan baik. Fungsi dari Kebun Raya adalah sebagai tempat konservasi ex-situ, penelitian, ekowisata, dan pendidikan lingkungan. Pengelolaan Kebun Raya tidak hanya mempertimbangkan aspek konservasi dan kompetensi ilmiah, melainkan mempertimbangkan pula aspek ekonomi dan sosial masyarakat sekitar (Perpres RI No. 93 Tahun 2011 mengenai Kebun Raya). Indonesia memiliki empat kebun raya, yaitu Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi, dan Kebun Raya Eka Karya Bali.

Kebun Raya Cibodas merupakan konservasi ex-situ yang beriklim dingin basah yang terletak di dekat kompleks Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan topografi lapangan yang bergelombang dan berbukit dengan ketinggian 1275 m dpl. Kebun Raya ini didirikan pada tanggal 11 April 1852 oleh Johannes E. Teijsmann, seorang kurator Kebun Raya Bogor dengan nama Bergtuin te Tjibodas (Kebun Pegunungan Cibodas) yang awalnya ditujukan sebagai tempat aklimatisasi jenis tumbuhan asal luar negeri yang bernilai ekonomi tinggi seperti kina (Cinchona calisaya). Kebun raya ini memiliki kelengkapan data mengenai tanaman yang ada di dalamnya, baik berupa data distribusi tanaman, perbanyakan, maupun konservasi yang merupakan pre-introduksi bagi setiap tanaman. Prinsip yang digunakan dalam Kebun Raya Cibodas yaitu save it, study it, dan use it.

Jenis koleksi tanaman yang berada di Kebun Raya Cibodas berasal dari Indonesia (75%) dan negara lain seperti Jepang, Australia, Afrika Selatan, Brazil, Amerika (25%). Jenis koleksi tanaman terdiri atas koleksi tanaman obat seperti Melaleuca, Camellia, dan Eucalyptus, kebun koleksi paku seperti paku pohon dan Todea, koleksi bunga bangkai Amorphophallus titanum Becc., koleksi Araucaria, koleksi kaktus dan Nepenthes di dalam rumah kaca, dan koleksi tanaman hias seperti Allamanda, Prunus, anggrek, dan Rhododendron. Rhododendron japonicum merupakan salah satu koleksi tanaman Kebun Raya Cibodas yang merupakan tanaman endemik yang berasal dari daerah Jawa Barat dengan bunga berwarna jingga. Kebun Raya ini juga memiliki taman lumut yang merupakan koleksi tanaman lumut terbesar di dunia secara outdoor dengan jumlah koleksi mencapai 235 jenis lumut.

Ada beberapa masalah yang terdapat pada Kebun Raya Cibodas, diantaranya tanaman invasif oleh famili Asteraceae dan sulitnya pengelolaan kebun raya dalam meningkatkan konservasi, penelitian, dan pendidikan lingkungan. Hal ini terlihat dari pemasukan pendapatan terbanyak Kebun Raya Cibodas berasal dari sektor ekowisata yang secara langsung dapat menyebabkan kerusakan tanaman oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Kerjasama antara pihak kebun raya dengan para stackholder sangat penting dilakukan di dalam masalah sistem manajemen lahan. Hal ini dilakukan agar kekayaan plasma nutfah di Indonesia tidak punah. Sistem pengelolaan konservasi ex-situ yang baik sangat penting dilakukan untuk kebaikan di masa datang.

Indahnya Kebun Raya Cibodas… =D

 

 

 

 

Keanekaragaman Morfologi dan Karakteristik Serbuk Sari (polen) pada Tumbuhan Angiospermae

Alfred Michael

Student of Department of Biology, Faculty of Mathematics and Science, Bogor Agricultural University

Tumbuhan angiospermae ialah tumbuhan berbiji tertutup dan memiliki alat perkembangbiakan generatif berupa bunga dengan bakal biji yang terletak di dalam bakal buah. Alat perkembangbiakan generatif terdiri dari benang sari dan putik. Benang sari (stamen) ialah organ reproduksi jantan pada bunga yang terdiri dari tangkai sari (filamentum) dan kepala sari (anthera) yang terdapat pada ujung tangkai sari yang terdiri atas dua ruang sari (theca). Dalam ruang sari terdapat serbuk sari (polen), yaitu sel jantan yang berguna untuk penyerbukan. Menurut Tjitrosoepomo (1985), benang sari terbentuk dari metamorfosis daun yang bentuk dan fungsinya disesuaikan sebagai organ reproduksi jantan.

Serbuk sari (polen) merupakan alat penyebaran dan perbanyakan generatif yang merupakan modifikasi dari sel sperma pada tumbuhan berbunga yang diproduksi dalam microsporangium pada anther bunga. Secara sitologi, serbuk sari merupakan sel dengan tiga nukleus, yang masing-masing dinamakan inti vegetatif, inti generatif I, dan inti generatif II. Sel dalam serbuk sari dilindungi oleh dua lapisan (intine dan exine) untuk mencegah terjadinya dehidrasi.

Bentuk, ukuran, dan tekstur serbuk sari sangatlah beragam. Hal tersebut terbentuk sesuai dengan kebutuhan khusus setiap tumbuhan. Keanekaragaman bentuk dan tekstur serbuk sari tumbuhan diantaranya berbentuk bulat bundar, bulat telur, permukaan berduri, permukaan kasar, dan permukaan halus. Permukaan serbuk sari yang beragam tersebut diakibatkan oleh susunan bakula yang khusus. Bakula merupakan ukiran dari seksin (bagian luar exine) yang tersusun secara radial (Erdtman 1952). Tumbuhan yang diserbuki oleh kumbang cenderung memiliki serbuk sari yang halus dan lengket, sehingga mudah menempel pada kumbang. Sedangkan tumbuhan yang diserbuki oleh serangga ataupun lebah cenderung mempunyai serbuk sari berduri dan mudah menyisip diantara bulu serangga tersebut.

Selain bentuk dan tekstur yang beragam, ukuran diameter serbuk sari pun sangat beragam, dan pada umumnya berukuran kecil, yaitu sekitar 2-300 mikron. Berdasarkan ukurannya, Erdtman (1952) mengelompokkan serbuk sari dalam beberapa kelompok, yaitu perminuta (diameter kurang dari 10 mikron), minuta (diameter 10-25 mikron), media (diameter 25-50 mikron), permagna (diameter 100-200 mikron), dan giganta (diameter lebih dari 200 mikron).

Serbuk sari

Ukuran serbuk sari yang sangat kecil mempermudah serbuk sari terbang apabila tertiup oleh angin. Beberapa jenis tumbuhan membentuk serbuk sari yang lengket dan berlemak, sehingga serbuk sari tersebut tidak mudah terbawa oleh angin. Serbuk sari yang lengket tersebut sangat mudah melekat pada tumbuhan serangga, dan menyebabkan serbuk sari dapat terbawa kemana-mana. Serbuk sari sangat digemari oleh serangga karena mengandung banyak zat organik seperti karbohidrat, protein, dan lemak yang merupakan zat makanan bagi serangga (Darjanto dan Satifah S. 1982).

Saat ini, keanekaragaman ukuran, tekstur, dan bentuk dari serbuk sari pun dapat dijadikan sebagai klasifikasi suatu tumbuhan berbunga (Angiospermae). Kemajuan dari ilmu pengetahuan mengenai serbuk sari memunculkan satu bidang ilmu pengetahuan, yaitu palinologi yang mempelajari polinomorf dari serbuk sari.

Daftar Pustaka

Darjanto dan Satifah S. 1982. Pengetahuan Dasar Biologi Bunga dan Teknik Penyerbukan Silang

Buatan. Jakarta: PT.Gramedia.

Erdtman,  G.  1952.  Pollen   Morphology  and   Plant   Taxonomy:  Angiosperms.  Massachusets:

Chronica Botanica, Waltham.

Tjitrosoepomo,   G.  1985.  Morfologi  Tumbuhan.  Yogyakarta:  Gadjah  Mada  University  Press.

Ferrit Bead (Tugas PenKom I)

Posted by: ALFRED MICHAEL ALFRED MICHAEL in PenKom (KOM 201) No Comments »

Ferrit bead merupakan bagian dari kabel yang berbentuk silinder dan biasanya ditemukan dibagian ujung pada kabel komputer.

Komponen ini terdiri atas substansi semi-magnetik yang terbuat dari logam dengan oksida besi.

Fungsi dari ferrit bead sangat bergantung pada frekuensi. Pada frekuensi rendah, ferrit bead berperan sebagai induktor, sedangkan pada frekuensi yang tinggi, ferrit bead berperan sebagai resistor.

ferrit bead

ferrit bead

PAPARAN REKTOR IPB terhadap KASUS SAKAZAKI

Posted by: ALFRED MICHAEL ALFRED MICHAEL in it's complicated No Comments »

Berikut adalah paparan Rektor IPB Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, Msc terkait susu formula yang disampaikan pada Lokakarya Kemahasiswaan IPB di Auditorium FPIK, Ahad (20/2) siang tadi.

Pada awalnya, penelitian ini dilakukan oleh Dr. Sri Estuningsih selaku ahli Mikrobiologi Kedokteran Hewan. Beliau mendapat dana penelitian yang cukup besar, term…asuk salah satunya adalah Dana Hibah Bersaing. Penelitian yang dilakukan ini adalah untuk melakukan isolasi terhadap bakteri Enterobacter sakazakii. Kalau dalam bahasa gaulnya “berburu bakteri”. Bakteri ini sebenarnya sudah ditemukan lama sejak tahun 1958, namun belum diketahui tingkat keganasannya. Susu berpotensi untuk menjadi habitat E. sakazakii karena mengandung protein yang tinggi. Dr. Estu kemudian mencoba melakukan penelitian lebih terhadap bakteri ini, sampai dilakukan di Jerman karena tidak adanya fasilitas di Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut, diketahui 5 dari 22 produk susu yang diteliti ternyata mengandung bakteri tersebut. Bakteri tersebut kemudian diujicobakan pada seekor mencit dalam dosis yang cukup tinggi, ternyata bakteri ini menyerang jaringan otak.

Setelah diketahui dampak dari bakteri ini, Dr. Estu segera mengumumkan pada pihak-pihak terkait adanya bakteri E. sakazakii dan akibatnya. Beliau sudah banyak mem-publish dalam pertemuan atau seminar ilmiah. Namun ada seorang menteri pada waktu itu (sekitar tahun 2008) yang menganggap remeh hasil temuan itu. Beliau mengatakan itu karena penelitian ini dilakukan oleh seorang dokter hewan. Depkes dan BPOM pun tidak dapat melakukan tindakan, karena hingga tahun 2008, belum ada peraturan terkait kontaminasi bakteri E. sakazakii ini.

Kemudian dilakukan seminar internasional FAO yang mengundang seluruh ahli dari berbagai belahan dunia, dan Dr. Estu mewakili Asia dalam seminar tersebut. Akhirnya ditetapkan dalam keamanan standar pangan internasional, bahwa susu harus terbebas dari kontaminasi E. sakazakii. Dengan dikeluarkannya ketetepan ini, pada tahun 2008 dilakukan teguran bagi seluruh produsen susu untuk memperbaiki kinerja produksinya sehingga seluruh produk susu wajib terbebas dari kontaminan bakteri E. sakazakii. Dan pada tahun yang sama pula, BPOM melakukan uji pada 96 merk susu dan hasil seluruh pengujian adalah NEGATIF alias tidak lagi ditemukan ada kontaminasi E. sakazakii pada produk susu.

Pada waktu dekat ini, terdapat seseorang yang bernama David L. Tobing yang memiliki 2 orang anak, menuntut agar kelima produk yang diindikasikan tercemar bakteri E. sakazakii berdasarkan penelitian Dr. Estu pada tahun 2006 agar dipublikasikan. Awalnya David menuntut atas nama masyarakat Indonesia, lalu berubah kemudian dia menuntut atas nama kedua anaknya karena anak-anaknya mengonsumsi susu. Padahal hingga saat ini kedua anaknya baik-baik saja (Alhamdulillah). Adanya penuntutan ini kemudian diliput oleh media. Media menyatakan bahwa apabila ini tidak diumumkan maka akan meresahkan warga. Distorsi media inilah yang menjadi salah satu faktor dalam mencuatnya kasus ini, sehingga banyak masyarakat yang hanya mengetahui kasus ini dari segi kepentingan publik semata, tidak melihat bagaimana seharusnya publikasi ilmiah itu diterima.

Pak Rektor menambahkan tentang dosis pengujian pada mencit. Dosis yang diberikan pada mencit adalah dosis yang dilakukan terus menerus dalam takaran tinggi, hingga akhirnya diindikasikan menyerang jaringan otak. Sementara seandainya terdapat bakteri ini dalam susu formula yang kita konsumsi, dosis nya tidak akan setinggi dosis yang diberikan pada mencit. Beliau mengatakan, “Dan saya kira, bayi-bayi Indonesia bukanlah bayi tikus, sehingga masih aman.” Dan pada kenyataannya, hingga saat ini remaja seukuran kita yang dulu mengonsumsi susu atau masih pada saat ini, hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus penyakit akibat bakteri ini.

IPB, selaku institusi pendidikan tinggi, sangat menjunjung tinggi kode etik penelitian. IPB tidak dipengaruhi oleh otoritas apapun, termasuk otoritas pemerintah maupun industri. “Kita patuh pada hukum, namun kita harus terus menjunjung tinggi etika penelitian. Saya tidak pernah ditekan oleh menteri. Dan kalaupun ada menteri yang menekan saya, saya akan bilang tidak. Terlalu murah jika IPB dibeli oleh pihak-pihak yang mementingkan kepentingan sendiri.”

“IPB akan mengumumkan jika memang masyarakat sudah dalam kondisi yang berbahaya atau darurat, sekalipun itu melanggar aturan. Hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus akibat kontaminasi E. sakazakii, dan sejak tahun 2008 seluruh merk susu telah dinyatakan negatif oleh BPOM.”, beliau menambahkan.

Dari paparan diatas, tentu sebaiknya kita kembali berkaca pada dunia pendidikan, yang memegang teguh Tri Dharma Pendidikan Tinggi. Seharusnya kita berterima kasih dan bersyukur dengan ditelitinya bakteri E. sakazakii oleh Dr. Estu yang akhirnya menjadi patokan dalam standar keamanan pangan internasional. Rektor mengimbau kepada pada masyarakat, untuk dapat memahami dan membaca dengan baik publikasi ilmiah, termasuk web ilmiah. Karena ini adalah penelitian yang bersifat ilmiah, maka bahasa yang digunakan juga ilmiah. Juga kepada media yang banyak melakukan distorsi terhadap sumber yang pasti. Rektor mengeluhkan dengan penyingkatan kalimat tulisan newsticker yang bertuliskan:

–IPB tidak izin melakukan penelitian kepada Kementrian Kesehatan–

padahal IPB selaku institusi memang berhak melakukan penelitian dan tidak memerlukan izin dari kementrian manapun. Tapi penulisan diatas cenderung menunjukkan penelitian yang dilakukan oleh IPB adalah ilegal. Pada awalnya ini merupakan publikasi ilmiah biasa, namun bergeser mulai dari persoalan hukum , kepentingan golongan, bahkan kepentingan politik semata. Ada beberapa pihak yang menggunakan kesempatan ini untuk menjadi terkenal dalam panggung perpolitikan semata.

Harapan dari saya untuk pembaca sekalian, agar dapat mengambil hikmah dari kasus ini. Saat ini sepertinya sudah tidak ada bidang yang tidak ditunggangi kepentingan politik atau golongan. Dunia pendidikan yang seharusnya bersifat independen dan berpihak pada kepentingan bersama serta kemajuan bangsa akhirnya mulai diusik dan diganggu dengan berbagai tuduhan telah menjadi bagian dari kongkalikong golongan tertentu. Bahkan dunia olahraga yang notabene nya jauh dari panggung perpolitikan dan murni untuk mengukir prestasi dan kesehatan pun mengalami hal yang serupa. Saya kira dengan berbagai media yang memberitakan kasus ini dari berbagai sudut pandang, seluruh masyarakat dan khususnya kaum intelektual dan cendekia dapat melihat kasus ini lebih dalam dan mengambil hikmah yang ada. Sesuai dengan amanat Pak Rektor, jangan sampai kasus ini membuat kreativitas dan semangat para peneliti turun dan takut karena adanya kasus seperti ini. Semoga kasus ini dapat cepat selesai tanpa merugikan pihak manapun, serta semangat para putra/putri bangsa terus membara dalam membangun negara. Salam.

NB: Mohon maaf jika terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penulisan ini karena keterbatasan dokumentasi dan pengetahuan penulis. Amat terbuka bagi yang ingin memberikan kritik, saran serta koreksi

Sumber : Fajar Munich Putranto (TIN 46)

first blog

Posted by: ALFRED MICHAEL ALFRED MICHAEL in PenKom (KOM 201) No Comments »

Welcome to My First Blog

Stitch say :

stitch

gambar stitch

tautan ke Google